Saturday, October 24, 2009

Masih Al-Dajjal, Siapa Dia?

Salaam,

Tulisan ini bermula dari pertanyaan sahabat kami, Dani, lewat Facebook. Saya munculkan di sini semoga tidak membuatnya keberatan karena saya melihat (mungkin) ada manfaatnya buat yang lain.

Pudji Ardani 22 October at 18:52
P. Abdi, maaf mengganggu.....kalau ada waktu bisa gak P. Abdi crita sedikit mengenai Dajjal...kata teman saya, Dajjal bakal keluar di sekitar Iran....dll. makasih sebelumnya.



Saalam Dani,

Saya akan coba jawab sejauh yang saya tahu ya.

Mungkin singkatnya begini. Hampir setiap agama memiliki keyakinan tentang kemunculan "Ratu Adil" atau Messiah. Yaitu keyakinan bahwa Allah akan mengutus hamba pilihan-Nya menjelang akhir zaman untuk menegakkan keadilan setelah dunia dipenuhi dengan penindasan, korupsi, kekacauan, kemaksiatan, dll.

Di kalangan agama-agama Ibrahimiyah (Abrahamic), Yudaisme, Kristen dan Islam, konsep atau keyakinan ini bahkan sangat kental.

Orang-orang Yahudi meyakini dan menunggu-nunggu Messiah mereka sejak kenabian Nabi Musa berakhir. Ketika Nabi Isa turun sebagain mereka mengira beliaulah Messiahnya. Namun pada akhirnya mereka mengingkari bukan saja sebagai Messiah bahkan juga sebagai Nabi. Mereka menganggap beliau sebagai impostor, nabi palsu, dsb. Mereka memutuskan dan meminta Gubernur Romawi pada waktu itu menyalib beliau. Mereka (orang-orang Yahudi dan Kristen) meyakini beliau wafat di tiang salib. Kita Muslim meyakini beliau diangkat Allah ke langit dan seseorang (Yudas?) dibuat-Nya serupa dengan Nabi Isa dan mengalami penyaliban.

Orang-orang Yahudi kemudian menunggu lagi Nabi/Messiah baru begitu rupa sampai mereka sengaja tinggal di Medinah. Para pendeta mereka meramalkan bahwa Nabi baru akan muncul di Arabia. Karena itu dalam sejarah Islam kita mengenal ada tiga kabilah/suku besar: Bani Quraizah, Bani Nadir dan Bani Qaynuqa. Sebelum Nabi Muhammad muncul mereka bahkan sering bersumpah terhadap orang-orang Madinah (Yatsrib) dengan mengatakan: "Demi Nabi yang akan hadir". Namun, seperti halnya yang terjadi pada Nabi Isa mereka pun akhirnya mendustakan alias menolak Nabi Muhammad. Alasannya hanya satu: beliau bukan Yahudi. Setelah ini mereka tidak lagi menanti Nabi baru melainkan Sang Masih (Messiah, Ratu Adil).

Sekarang giliran orang-orang Kristen. Setelah Yesus mereka yakini wafat di tiang salib mereka meyakini beliau bangkit lagi beberapa hari sesudahnya (Paskah). Dan setelah beliau lenyap kembali mereka metakini beliau akan hadir di akhir zaman. Syaratnya: Solomon Temple (Sinagog Nabi Sulaiman) yang sebagian temboknya sekarang jadi dinding ratapan kaum Yahudi di Jerusalem, harus berdiri tegak kembali. Karena itu para Kristen militan Amerika (sebagian mengatakan Bush termasuk di dalamnya) mendukung Zionist dan Israel habis-habisan demi terwujudnya kembali Istana Nabi Sulaiman (Solomon Temple) karena dari situlah Yesus diyakini akan muncul kembali untuk membawa keadilan.

Seperti disebutkan di atas, Islam meyakini Nabi Isa tidak wafat dan diangkat Allah ke haribaan-Nya. Hal ini ditegaskan dalam QS Ali Imran. Karena itu Quran menyebut Sang Nabi Al-Masih artinya Messiah, Ratu Adil yang ditunggu. Hampir seluruh kaum Muslimin meyakini bahwa beliau akan hadir di akhir zaman. Sebagian yang tak meyakini mendasarkan pandangannya pada "logika" dan "kondisi/pandangan modernitas" yang sulit menerima "hal-hal yang gaib". Tapi ini kita bahas terpisah nanti.

Namun demikian, meski Muslimin meyakini Nabi Isa sebagai Al-Masih, Al-Masih sejati adalah Imam Mahdi sebagaimana yang dinubuatkan Baginda Rasul Muhammad SAAW. Nama beliau yang sebenarnya adalah Muhammad. Al-Mahdi adalah gelarannya yang berarti Sang Pemberi Petunjuk.

Ringkasnya kisah, sebelum kemunculan Al-Mahdi ini ada beberapa tanda, besar dan kecil. Antara lain akan muncul seseorang yang dijuluki An-Nafsuz Zakiah (Sang Diri yang Suci) di Mekah dan beliau, sang pembawa kabar akan segera datangnya Al-mahdi, akan terbunuh/syahid di Masjidil Haram.

Selanjutnya Imam Mahdi akan muncul. Beliau akan menghancurkan Pasukan Sufyani (Para Tiran keturunan Abu Sufyan/Mu'awiyyah). Sebelum atau sesudahnya (saya harus cek lagi) Nabi Isa akan turun dan bahu membahu bersama Imam Mahdi menghancurkan kebatilan dan menegakkan keadilan. Nabi Isa akan mempersilakan Imam Mahdi memimpin salat dan bermakmum di belakangnya karena beliau mengatakan periode kenabian beliau telah berakhir setelah kehadiran Nabi dan Imam Mahdi adalah pelanjut agama Nabi Muhammad. Nabi Isa selanjutnya akan menikah dan memiliki keluarga seperti halnya para Nabi dan orang-orang biasa. Beliau akan mendatangi Kaum Nasrani/Kristen dan meluluh-lantakkan keyakinan palsu mereka bahwa beliau bukanlah Anak Tuhan (disimbolkan dengan emnghancurkan salib-salib) dan meluruskan atau melawan mereka yang menolaknya.

Orang-orang Yahudi selanjutnya menemukan orang yang mereka tunggu-tunggu sebagai Al-Masih mereka. Dia dikatakan bermata satu dan memiliki kecerdasan dan kekuatan yang luar biasa. Orang inilah yang dikenal oleh Muslimin sebagai Masihud Dajjal, Dajjal yang ditunggu-tunggu (kaum Yahudi).

Imam Mahdi dan Nabi Isa melawan Dajjal dan akhirnya berhasil membunuhnya.

Darimana Dajjal muncul, kalau saya tidak keliru dia muncul dari satu tempat di Timur Tengah, mungkin di Jerusalem. Tapi bukan di Iran. Saya kira kawan anda yang mengatakan tentang kemunculan di Iran itu keliru dengan seseorang yang berdasrkan hadis Nabi muncul di Khurasan. Sebagian orang percaya yang muncul itu Imam Mahdi, sebagian berkeyakinan pembawa kabar kehadiran Imam Mahdi. Berdasarkan Hadis dan keyakinan yang lebih kuat Imam Mahdi akan muncul di Masjidil Haram, Mekah.

Wallahu a'lam,
Abdi

Tuesday, October 06, 2009

Doa Bagi Orangtua

Diambil darikutipan bagian terakhir doa Imam Zainal Abidin bagi orangtua kita dalam Sahifah Sajjadiah:

- Ya Allah sampaikan salawat kepada Muhammad,
keluarganya dan keturunannya
Istimewakan kedua orangtuaku dengan yang paling
utama dari apa yang
Kau istimewan pada orangtua
hamba-hamba-Mu kaum Mukminin
Wahai yang Paling Pengasih dari yang pengasih

- Ya Allah jangan biarkan aku lupa untuk menyebut
mereka sesudah salatku
Pada saat-saat malamku
Pada saat-saat siangku

- Ya Allah sampaikan salawat kepada Muhammad dan
keluarganya
Ampunilah aku dengan doaku kepada mereka
Ampunilah mereka dengan kebajikannya terhadapku,
ampunan yang sempurna
Ridailah mereka dengan syafaatku untuk mereka,
keridaan yang paripurna
Sampaikan mereka dengan anugrah-Mu ke
tempat-tempat kesejahteraan

- Ya Allah jika ampunan-Mu datang lebih dahulu
kepada mereka
Izinkan mereka untuk member
syafaat kepadaku
jika ampunan-Mu datang lebih dahulu kepadaku
Izinkan aku untuk member syafaat
kepada mereka
Sehingga dengan kasih sayang-Mu kami berkumpul
Di rumah mulia-Mu
Di tempat ampunan dan kasih-Mu
Sungguh Engkau Pemilik karunia yang besar,
anugrah yang abadi
Engkaulah yang Maha Pengasih dari semua yang
mengasihi

Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat

Saturday, September 12, 2009

AddThis - Sharing http://www.thestar.com/Opinion/article/693960

AddThis - Sharing http://www.thestar.com/Opinion/article/693960

Shared via AddThis

Wednesday, August 12, 2009

Other Photos

 
 
 
 
Posted by Picasa

Dian' Garden Waterfall

 
Posted by Picasa

Sunday, August 09, 2009

Dialog Perbedaan dalam Islam

Ole Leho Selamat menunaikan ibadah malam Nisyfu Sya'ba. (Shab-e-Baraat) dan merayakan Hari Kelahiran Imam Agung kini: Imam Mahdi a.f.s. Semoga Allah menetapkan "taqdir" yang terbaik bagi kita di malam ini. Hidupkanlah Malam Agung ini (Rabu di Indonesia, Kamis di Kanada) hingga Fajar dengan zikir, salat dan doa. Sampaikan doa anda kepada Allah swt melalui Ariza Sang Imam. Jangan lupa untuk mendoakan orang lain terlebih dahulu.
05 August at 21:49

Frieda Achmadi-Brotoatmodjo
Ass kang, punteun ari Ariza teh saha? Naha mesti lewat Imam? Atau ini artinya gmn? Nuhun utk info nya
05 August at 22:10

Ole Leho
Ariza teh, buat yang percaya, surat yang kita kirimkan kepada Imam berisi keinginan dan doa kita kepada Allah untuk urusan dunia maupun akhirat.
05 August at 22:52

Taufik Hidayat Dopy

Ass, kang punten maksudnya Imam Agung kini teh imam agung kita saat ini?? nuhun
Thurs at 00:12

Ole Leho
Alaikum Salam,

Iya maksudku Imam Agung itu adalah Imam Mahdi. Menurut sebagian orang beliau belum lahir dan akan lahir di akhir zaman bersama Nabi Isa a.s. Menurut sebagian yang lain beliau sudah lahir pada tanggal 15 Sya'ban sekitar seribu tahun yang lalu bertepatan dengan Nisfu Sya'ban.

Karena itu dalam pertengahan Sya'ban kita melakukan dua hal: memperingati Hari Kelahiran beliau plus memperingati dan menjalankan amal Nisfu Sya'ban. Malam Nisfu Sya'ban adalah malam terbesar kedua setelah Laylatul Qadar dimana Allah mencatatkan "taqdir" kita untuk setahun ke depan. Karena itu kita dianjurkan melakukan banyak ibadah dengan menghidupkan malamnya hingga pagi hari.

Mudah2an jelas. Kalau tidak silakan tanya lagi. Trims.

Wassalaam,
Abdi
Thurs at 17:27

Fahmi Alkaff
Dengarlah dan perhatikan apa yang di sampaikan........ karena SAATNYA sudah dekaaaaaaaaaaat....!!
Thurs at 23:30

Muhammad Amin
Janganlah memberitakan hal-hal yang masih menjadi perbedaan pendapat di sebagian besar ummat.
Fri at 14:52

Ole Leho
Terima kasih atas saran anda Amin. Seperti anda lihat saya menyebutkan kedua pendapat di atas, mereka yang meyakini Imam Mahdi belum lahir dan akan hadir sebagaimana diramalkan Rasulullah di akhir zaman. Sebagian yang lain meyakini Imam telah lahir pada 15 Sya'ban 10 abad yang lalu dan gaib. Anda boleh juga tidak percaya pada keduanya.

Anda berhak memberi komentar namun tidak berhak melarang orang menyampaikan pandangannya. Jika anda mau silakan sampaikan pandangan anda sehingga tercipta dialog yang sehat.

Larang-melarang adalah kebiasan para tiran mulai Soeharto hingga Sadam yang takut pada terungkapnya kebenaran.

Wassalaam,
Abdi
Fri at 18:48

Muhammad Amin
Perbedaan pendapat tentang hal ini, telah berlangsung berabad-abad, dan tidak akan ada ahirnya. Tidak akan cukup disampaikan di Forum ini. Saya hanya menyampaikan cara saya berbicara mengenai agama kepada awam, mengindari hal-hal yang bisa menjadi pertentangan di ummat. Karena banyak sekali hal lain yang lebih penting untuk terciptanya ukhuwah di ummat islam.
P.Abdi menyebutkan "kita" dalam menyampaikannya. Jadi seolah-olah kita semua percaya pada apa yang dibicarakan P.Abdi. Atau mungkin P.Abdi hanya bicara didalam komunitas P.Abdi sendiri. Demikian mohon maaf kalau ada kata-kata yang dianggap tidak pantas.
Yesterday at 02:11

Ole Leho
Salaam Amin, terima kasih atas penjelasan anda. Tak ada yang perlu dimaafkan karena anda tidak menyakiti atau menyinggung saya. Saya malah senang dapat tanggapan dari anda, itu tanda permulaan yang baik dalam dialog, ketimbang dipendam di dalam hati padahal kita tidak sepakat.

Izinkan saya menjawab. Perbedaan tidak selalu berkonotasi negatif. Dalam Quran Allah justru menunjukkan perbedaan itu, kurang lebih, sebagai hikmah:

"Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu)." (QS Al Hujurat 49:13)

Allah membuat kita berbeda-beda agar kita saling mengenal satu sama lain. Bukan untuk membuat yang satu merasa lebih superior dari yang lain karena Allah tidak akan melihat dari warna kulit atau bahasa melainkan "Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu."

Karena itu tidak ada yang salah pada adanya perbedaan bahkan meskipun telah berlangsung berabad-abad. Yang salah adalah bila kita mengeksploitasi perbedaan itu untuk memecah belah yang biasanya hanya dilakukan oleh orang yang ingin menguasai: devide et impera (divide and conquer).

Kedua, forum ini wahana publik. Kita bebas melemparkan gagasan apapun selama kita menjaga norma dan batas susila diantara kita. Menyerang dan menyakiti bukanlah sikap mulia dan karenanya tidak bisa kita tolerate. Alhamdulillah kita tidak sedang melakukan itu.

Karena ini forum publik saya tidak harus hanya membatasi pada komunitas saya seperti yang anda sebutkan. Siapa saja yang tertarik mengakses profil saya tidak perlu dilarang membaca pikiran dan pandangan saya. Kita percaya masing-masing kita di forum ini sudah dewasa dan dapat memilih apa yang baik baginya. Bukanlah ciri saya untuk menganggap orang lain awam. Terus terang sayalah yang awam dan terus berusaha belajar dari hikmah yang muncul dari perbedaan.

Ketiga, ukhuwah tidak berarti semua sama, semua seragam. Saya tetap menjadi kawan baik anda sekalipun saya percaya kepada Imam Mahdi dan anda (mungkin) tidak. Anda tetap kawan Muslim saya yang pernah bekerja bersama di IPTN dan Brazil. Perbedaan pandangan kita tidak akan dengan sendirinya memutuskan ukhuwah kita.

Keempat, perbedaan yang telah berlangsung bertahun-tahun dan tak kunjung berhenti seperti anda katakan tidak dengan sendirinya sia-sia. Siapa yang tahu bahwa justru dari perbedaan itu seorang sadar bahwa apa yang dipahaminya selama ini keliru. Siapa yang mengira dari perbedaan itu muncul sesuatu yang justru menyelamatkannya di Hari Akhir.

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis sahih: "Barangsiapa yang mati tanpa mengenal imam zamannya ia mati Jahiliah." Apakah ada perbedaan pendapat mengenai hadis ini? Silakan beritahu kami.

Bagaimana dengan hadis dalam Sahih Bukhari dan Muslim dimana Rasul mengatakan khalifah/amir/pemimpin/imam sesudah beliau ada 12 orang, semuanya dari Quraisy. Dalam riwayat lain semuanya dari Bani Hasyim.

Akhirnya marilah kita selalu membuka diri terhadap setiap informasi yang datang. Jangan khawatir daya nalar kita cukup baik dalam menerima atau menolak sesuatu yang tidak cocok buat kita... bahkan sekalipun itu sebuah kebenaran.

Semoga komentar panjang lebar saya ini berguna. Sekiranya tidak just delete or forget it. Don't waste your time, just move on.

Wallahu a'lam dan wassalaam,
Abdi
Yesterday at 17:42

Muhammad Amin
Assalaamu"alaikum.
Saya setuju, dan saya faham dengan surat Alhujraat:13, perbedaan adalah merupakan sunatullah. Yang saya khawatirkan adalah perbedaan dalam memahami agama, perbedaan dalam aqidah akan mengakibatkan kita berbantah-bantahan, akan menyebabkan kita bertengkar dan akan memecah belah ummat. Itulah yang telah terjadi pada ummat Islam. Bagi kita yang punya cukup nalar mungkin tidak akan terjadi pertengkaran, permusuhan sehingga melemahkan Islam sendiri.

Dalam Alquran Allah telah berfirman" ...dan janganlah kamu berbantah-bantahan, nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatanmu..." Al.Anfal:46)
"Jikalau tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusa ummat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh tuhanmu......" Q.S.Hud:118-119. dan ada bebreapa ayat lagi dalam Alquran yang melarang berpecah belah.
Jadi menurut saya berselisih itu dilarang oleh Allah, dan yang berselisih tidak diberi rahmat oleh Allah.

Kebenaran itu hanya satu, dan Aqidah itu hanya satu.
Yang saya maksud dengan awam itu adalah publik atau umum, dan saya tidak menganggap bahwa saya lebih faham dari publik. yang saya khawatirkan adalah terjadinya perselisihan dan pertengkaran diantara ummat. Dan itulah yang sudah menjadi kenyataan terjadi di ummat Islam.

P.Abdi saya mungkin termasuk orang yang sangat sedih dan menyesali kenapa didalam ummat islam terjdi perpecahan sehingga ada sunni ada syiah. dll. Kita sebagai manusia yang hidup jauh setelah Rosululloh, tiba-tiba saja mendapatkan ummat yang sudah bercerai berai. Saya bermimpi seandainya saya punya kemampuan saya ingin mengembalikan ummat islam ini bersatu, ingin mengembalikan seperti zaman rosululloh saw.
Oleh karena itu saya selalu menghindari hal-hal yang bisa memecah belah ummat. Dan saya tidak mau ikut-ikutan seperti orang-orang sebelum kita, yang telah membuat ummat islam seperti sekarang ini.

Hal-hal yang memulai kita bicara sekarang ini, kemudian P.Abdi menambahkan 2 hadist. Ini adalah bukan lagi suatu ikhtilaf atau hilafiah, tapi sudah merupakan perbedaan aqidah. Dan saya tidak akan mengomentarinya, karena sudah banyak orang baik yang sebelum kita, maupun sekarang telah berbantah-bantahan mengenai ini. Saya tidak mau ikut-ikutan membuang buang waktu. Masih banyak hal-hal yang lebih bermanfaat buat saya. Saya lebih baik memperbaiki akhlak saya yang masih sangat compang-camping. Saya Insyallah akan terus berusaha memahami Islam ini lebih baik. dan saya akan terus mencari kebenaran yang satu itu. Dan terahir tentu saja kita akan menjadi sahabat terus, Mudah-mudahan P. Abdi juga menemukan kebenaran yang sejati.
4 hours ago

Ole Leho
Alaikum Salaam,
Setuju 100% dengan anda tentang perpecahan (firaq); karena itu saya lebih memfokuskan pada perbedaan (ikhtilaf). Saya bahkan menyebutkan bahwa perpecahan itu sebagai alat penguasa atau kolonialis untuk menguasai (devide et impera, divide and conquer).

Tentu saja kita pantas bersedih dalam melihat perpecahan. Namun kita bisa melihat... Read more pebedaan dalam perspektif lain. Allah menciptakan manusia berbeda-beda untuk mengenal satu sama lain. Meski dalam sejarah perbedaan ini dieksploitasi sebagai alasan orang putuh memperbudak orang hitam karena alasan superiority, yang oleh Allah sudah diantisipasi dengan menyebutkan sebaik-baik kalian adalah yang paling taqwa, bukan yang putih, bukanyang Arab, dst.

Dengan terjadinya diskriminasi dan perbudakan apakah dengan begitu kita bisa menyalahkan perbedaan warna kulit? Tentu saja tidak karena bukan itu yang menjadi masalah, melainkan sikap diskriminasi, superior, takabur yang berujung pada eksploitasi satu bangsa terhadap bangsa lain.

Hal serupa dengan perpecahan yang timbul dari adanya perpecahan. Bahkan Rasulullah sendiri tidak melarang adanya perbedaan pendapat seperti dalam riwayat yang mungkin anda tahu. Yaitu ketika para sahabat melakukan perjalanan dan pada waktu salat mereka tidak menemukan air. Lalu mereka bertayamum dan salat dan meneruskan perjalanan. Tak lama kemudian mereka menemukan air dan waktu salat masih ada. Mereka berbeda pendapat, sebagian melakukan salat lagi sebagian lain tidak karena merasa telah melakukannya.

Saat mereka bertemu dengan Sang Rasul beliau bersabda bahwa yang salat kembali mendapat dua pahala, sementara yang tidak teguh dalam pendiriannya. Beliau tidak menyalahkan satu pihak pun apalagi menyalahkan perbedaan karena beliau tahu perbedaan adalah sesuatu yang alamiah selama manusia tidak memanfaatkannya buat keburukan.

Saya setuju,berbantah-bantahan seperti disebut dalam Quran betul-betul melemahkan kita, juga membuang waktu dan enerji dan sudah sepantasnya ditinggalkan.

Namun mengakui adanya perbedaan dan menjadikannya pilihan bagi setiap orang adalah sebuah cara dan sikap yang tepat. Karena itu fatwa Rektor Al-Azhar Dr. Mahmud Syaltut tahun 1959 yang mengakui Jafari sebagai mazhab kelima dalam Islam di samping Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali dan orang diberi keleluasaan untuk memilih merupakan terobosan yang besar. Sikap mulia dalam mengatasi perbedaan dan menghindarkan perpecahan. Dengan cara itu insya Allah perpecahan dapat dihindarkan

Salut dan sangat setuju dengan kecenderungan anda untuk lebih mengutamakan perbaikan akhlak kita; sesuatu yang menjadi prinsip utama saya dalam menilai seseorang. Dahulukan akhlak dari fikih.

Tentang awam, publik atau umum itu kita tidak berbeda. Saya tidak mengatakan bahwa anda bersikap lebih paham tapi saya menegaskan bahwa publik tidak dengan semestinya less knowledgeable dari kita. Karena itu tidak ada yang harus dikhawatirkan dengan diskusi publik. Mereka yang tertarik akan mengikuti, yang tidak akan pergi dan berkata who cares!

Saya kurang paham dengan komentar anda tentang kedua hadis tersebut. Apakah Bukhari dan Muslim berbeda aqidah dari kita? Saya tidak menambah2kan, saya mengutip hadis itu dalam hubungannya dengan komentar anda untuk tidak "... memberitakan hal-hal yang masih menjadi perbedaan pendapat...". Namun saya hargai sikap anda untuk tidak mengomentari.

Tentang aqidah, mungkin kita perlu meluruskan kesalah-kaprahan dalam penggunaannya. Aqidah adalah ushuluddin, pokok agama yang seseorang tidak dianggap Muslim bila tidak meyakininya:
1. Tauhid (keesaan Allah)
2. Nubuwah (keyakinan pada para Nabi dan Rasul dan bahwa Baginda Muhammad adalah Nabi Penutup)
3. Ma'ad (Hari Kiamat).

(Untuk lebih lengkapnya silakan merujuk pada: http://abdisoeherman.blogspot.com/2008/12/iman-dan-ilmu-pengetahuan.html#links)

Adakah perbedaan antara anda dan saya atau anda dengan Bukhari Muslim dalam hal ini? Saya yakin tidak.

Wallahu a'lam dan wassalaam,
Abdi
20 minutes ago

Wednesday, May 06, 2009

MahdiUnite : Message: Why candid camera was banned in Russia!!

MahdiUnite : Message: Why candid camera was banned in Russia!!

Saturday, December 27, 2008

IMAN DAN ILMU PENGETAHUAN

Salaam,

Sekadar berbagi info, iman berbeda dari pengertian “percaya” yang biasa kita gunakan sehari-hari. Dalam Islam, Iman merupakan ushuluddin: pokok/dasar/fundamental agama; mencakup tiga hal utama yaitu:
- Tauhid (Keesaan Ilahi)
- Nubuah (Kenabian)
- Akhirah (Hari Akhir)

Dalam Islam Sunni, rukun Iman yang enam tercakup dalam ketiga tonggak Iman di atas:
- Iman kepada Allah (tonggak pertama)
- Iman kepada para Malaikat (pertama)
- Iman kepada para Nabi, termasuk dan khususnya Nabi Besar Muhammad Saaw (tonggak kedua)
- Iman kepada Kitab-kitab (Suci) yang diturunkan Allah kepada para Nabi (kedua)
- Iman kepada Hari Kiamat (tonggak ketiga)
- Iman kepada Qadha dan Qadar atau Takdir (pertama)

Dalam Islam Syiah, rukun Iman yang lima juga tercakup dalam ketiga pokok Iman di atas:
- Tauhid atau keesaan Allah, lawan dari syirik (tonggak pertama)
- Keadilan Ilahi, yakni keyakinan bahwa Allah itu Maha Adil (pertama)
- Nubuah (tonggak kedua)
- Imamah, keyakinan bahwa Rasulullah Saaw menunjuk para Imam sesudah wafat Beliau (kedua)
- Ma’ad atau Hari Kebangkitan atau Kiamat (tonggak ketiga)

Untuk Ushuluddin di atas seorang Muslim WAJIB beriman (100%) tanpa harus bertanya atau tanpa perantara. Untuk itu setiap orang akan dimintai pertanggung-jawabannya di Hari Akhir kelak. Dalam hal ini tidak ada kompromi, tidak ada 50%, 75% atau kurang dari 100%. Semua harus 100%. Karena itu saya yakin semua Muslim dalam milis ini memiliki 100% keimanan dalam Ushuluddin atau Rukun Iman.

Kepercayaan atau dalam hal ini keimanan kepada hal-hal yang ghaib di atas, dalam Al Quran Surat Al-Baqarah 2, ayat 3, dijadikan indikasi/pertanda orang yang bertaqwa (muttaqin), yaitu orang yang senantiasa menghadirkan Allah setiap saat, dalam kesehariannya, baik di Masjid atau di luar Masjid. Yang tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan tercela karena menyadari Allah selalu melihat perbuatannya.

Keimanan adalah tahap yang lebih tinggi (advanced) dibandingkan keislaman. Untuk menjadi Muslim relatif “mudah”, anda cukup menyatakan “La Ilaha illa ‘llah, Muhammadar ‘Rasulullah”, Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Saaw adalah Rasul Allah. Dalam salah satu ayatnya Al-Quran menunjukkan hal ini:
[QS Al-Hujurat 49:14] Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah (kepada mereka): "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah tunduk (ber-Islam)", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Keimanan itu bertingkat-tingkat sebagaimana ditunjukkan dalam tahapan berikut ini:
1. ‘ilmul yaqin (percaya/iman berdasarkan ilmu/pengetahuan)
2. ‘Aynul yaqin (percaya/iman berdasarkan penglihatan: seeing is believing)
3. ‘Haqqul yaqin (percaya/iman yang sejati)

Contoh sederhana: ada orang berkata bahwa rumah di seberang kali terbakar. Orang yang mendengarnya sebagian percaya (ilmul yaqin). Beberapa orang kemudian mendatanginya dan melihat sendiri bahwa rumah itu benar-benar terbakar (aynul yaqin). Pemilik rumah itu sempat terbakar dan merasakan panasnya api (haqqul yaqin). Namun seperti saya katakan di atas iman atau yaqin hanya relevant dengan ushuluddin. Jadi contoh yang tepat adalah tentang keberadaan Allah. Seorang seperti kebanyakan diantara kita beriman kepadanya karena informasi yang diberikan oleh agama, buku-buku, para ustad, dsb. (ilmul yaqin). Para ilmuwan, astronom atau dokter lebih yaqin lagi atas keberadaan Allah karena mereka melihat sendiri bagaimana embrio berkembang seperti dijelaskan dalam Quran, bagaimana bintang dan galaksi dan alam semesta berkembang atau seperti Maurice Bucaille yang membuktikan sendiri bahwa mumi yang ditelitinya adalah Firaun yang tenggelam setelah Nabi Musa berhasil menyeberang berdasarkan ayat Al-Quran (aynul yaqin). Sementara Rasulullah selalu bersama Jibril atau pernah berada di Sidratul Muntaha dalam Mi’rajnya (haqqul yaqin).

Karena itu haqqul yaqin biasanya dimiliki oleh para Rasul dan para Imam saja. Sayyidina Ali pernah berkata, “Sekiranya pintu surga atau neraka diperlihatkan kepadaku imanku tak akan bertambah lagi”. Ini menunjukkan bahwa beliau sudah berada dalam posisi keimanan tertinggi. Sementara Khalifah Kedua Umar berkata saat mencium Hajar Aswad, “Sekiranya aku tidak melihat Rasul menciumnya aku tidak akan melakukannya” (aynul yaqin).

Sekarang mengenai Rasulullah melakukan bekam apakah merupakan bagian dari keimanan yang meyakininya harus tanpa reserve, tanpa tedeng aling-aling, tanpa harus bertanya atau meneliti lebih lanjut?

Mula-mula, kepercayaan kepada Rasulullah Saaw adalah bagian dari Iman (tonggak kedua) dan mengikuti seluruh perkataan dan tingkah lakunya (sunnah) adalah konsekuensi dari keimanan itu dan karenanya menjadi kewajiban bagi seluruh Muslim.

Namun demikian, berbeda dengan Al-Quran secara umum hadis (tradisi yang dikaitkan dengan perkataan dan perbuatan Nabi Saaw) mengandung kebenaran yang tidak mutlaq (absolute) atau 100% otentik, tetapi muqayyad, atau relative. Hadis harus melalui proses studi kritis yang menyeluruh dan mendalam yang dengan itu diperoleh beberapa kualifikasi. Tingkatan kebenaran hadis yang paling tinggi disebut sahih. Di bawah sahih adalah hasan, sementara hadis yang ditolak disebut maudhu (palsu). Namun demikian bahkan hadis sahih pun tidak sama dengan kebenaran mutlaq Al-Quran, tetapi hanya mendekati. Betapapun mendalam dan menyeluruhnya kajian hadis kebenaran yang dapat dicapainya hanya relative sesuai dengan sifat manusia, sementara kebenaran Allah absolute, sebagaimana Allah bersabda “Al-haqqu mir Rabbika fala takunanna minal mumtarin” ([QS 2:147] Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu). Ada beberapa hadis dalam Sahih Bukhari yang kebenarannya bahkan dapat dipertanyakan. Saya dapat memberi contoh di lain waktu.

Selanjutnya, mengenai bekam yang dilakukan Rasulullah ada dua hal yang harus kita lakukan. Pertama membuktikan bahwa hadis tentang Rasul berbekam itu sahih. Kedua, mencari, menemukan, mengkaji, menganalisa dan membuktikan bahwa metoda bekam, yang sekarang popular di Indonesia sebagai metoda alternative, BENAR-BENAR 100% sama dengan yang dilakukan Rasulullah.

Untuk yang pertama kawan-kawan dalam forum ini mungkin dapat menunjukkan kepada saya bahwa hadis tentang Rasul berbekam itu sahih atau ada dalam Kitab Sahih Bukhari atau Muslim. Saya sendiri pernah menemukannya, kalau tidak salah ingat, dalam Riadus Shalihin. Namun saya lupa apakah hadis itu mutafaq alaih atau sahih atau berasal dari Sahihain (Dua Kitab Sahih: Bukhari dan Muslim).

Untuk yang kedua, sekiranya premis pertama di atas benar, adalah penting bagi Muslim, dan ini tantangan buat para ilmuwan Muslim kiwari (contemporary), untuk membuktikan otentisitas metoda ini dalam hubungannya dengan apa yang dilakukan Nabi. Untuk itu kita tidak boleh HANYA percaya. Kita harus melakukan pengujian, penelitian dan analisa sebagaimana yang dilakukan para ilmuwan Muslim jaman dahulu seperti Ibnu Sina, Al-khawarizmi, Al-Biruni, Ibnu Rusyd, dll. Inilah yang membuat ilmu pengetahuan berkembang dalam dunia Islam. Sekiranya kita dan para ilmuwan itu tidak melakukan penelitian dan pengujian pastilah agama kita tidak berbeda dengan yang lain yang mempercayai bahwa bumi itu datar dan yang menentang seperti Galileo harus dihukum.

Al-Quran mengatakan “Fas’alu ahlaz Zikri, inkuntum la ta’lamun” ([QS 21:7 dan 16:43] …; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui). Ini menunjukkan bahwa dalam Islam bertanya dan mencari pengetahuan sangatlah dianjurkan. Bertanya adalah jembatan menuju pengetahuan.

Kesimpulan: untuk ilmu pengetahuan kita mesti bertanya, mempertanyakan dan menguji hingga memperoleh kebenaran. Islam melarang kita mempercayai sesuatu secara membuta. Islam memerintahkan kita untuk mengetahui dan mendalami pengetahuan lebih jauh. Quran berkata “Iqra”, bacalah! Dan Rasul menyuruh kita mencari ilmu sejak buaian hingga liang lahat atau hingga ke negeri Cina.

Untuk Ayi dan kawan-kawan, terus lakukan pengkajian dan pengujian dan tidak perlu khawatir bertanya atau mempertanyakan karena hal itu tidak akan mengurangi keimanan. Insya Allah usaha anda semua memperoleh ganjaran berlipat dari Allah SWT apalagi bila akhirnya dapat diterapkan dan memang mendatangkan manfaat.

Wallahu a’lam.